0
No products in the cart.

Daya Beli Melemah, Bisnis Ritel Awal 2025 Terpukul Hebat - Bangkitin

Nov 27, 2024 / By Bangkit Tensai / in Ecommerce

Daya Beli Melemah, Bisnis Ritel Awal 2025 Terpukul Hebat

Memasuki awal tahun 2025, industri ritel di berbagai kota besar Indonesia menghadapi tekanan berat. Pusat-pusat perbelanjaan tampak semakin sepi, dan penjualan mengalami penurunan signifikan, mencerminkan daya beli masyarakat yang terus melemah.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Solihin, menjelaskan bahwa penurunan jumlah konsumen terutama terjadi di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Selain karena tekanan ekonomi, perubahan perilaku konsumsi turut memperburuk kondisi. Konsumen kini lebih selektif dan fokus pada kebutuhan pokok, memilih produk berdasarkan harga termurah ketimbang merek.

"Usaha ritel banyak yang merugi karena konsumen terus berkurang," ujar Solihin, Rabu, 30 April 2025.

Fenomena ini menandai pergeseran besar dari kebiasaan berbelanja di era 1990-an hingga 2000-an, ketika hipermarket menjadi simbol kemakmuran. Kala itu, keluarga sering menghabiskan waktu berjam-jam di pasar swalayan besar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kini, pola belanja bulanan perlahan menghilang, digantikan oleh pembelian dalam frekuensi lebih singkat dan lebih hemat.

Kondisi ini diperburuk oleh penurunan pendapatan, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), dan pemangkasan anggaran belanja pemerintah. Kombinasi faktor tersebut mengakibatkan deflasi selama dua bulan berturut-turut di awal 2025—deflasi tahunan pertama dalam 25 tahun terakhir.

Penurunan konsumsi juga tercermin dalam kinerja penjualan produk fast-moving consumer goods (FMCG) selama bulan Ramadan dan Lebaran. Menurut data Aprindo, kenaikan penjualan hanya berkisar 5–8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, jauh di bawah ekspektasi.

Solihin menyebut bahwa banyak pengusaha ritel akhirnya memilih menutup gerai-gerai yang tidak lagi memberikan keuntungan. Strategi bertahan difokuskan pada lokasi yang masih memiliki kinerja positif.

Di sisi lain, tantangan eksternal juga ikut membebani industri ritel nasional. Ketua Umum Asosiasi Matahari Supplier’s Club (AMSC), Yvonne, mengungkapkan bahwa ketegangan geopolitik global dan kebijakan perdagangan internasional, seperti kenaikan tarif ekspor ke Amerika Serikat, memberikan dampak signifikan pada beberapa sektor unggulan seperti tekstil, alas kaki, furnitur, dan hasil laut.

"Para pemasok dan peritel perlu membangun sinergi baru yang saling menguatkan untuk bertahan, bahkan berkembang, di tengah tekanan inflasi, penurunan daya beli, dan persaingan digital yang semakin sengit," ujar Yvonne dalam pidatonya di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu, 23 April 2025.

Dengan situasi yang semakin kompleks, pelaku industri ritel dituntut untuk melakukan inovasi, efisiensi, dan adaptasi agar dapat bertahan di tengah tantangan ekonomi global dan domestik yang terus berkembang.